welcome note


Friday, August 27, 2010

Si Wajah Pucat Paul Scholes



Catatan Sepakbola Liza Arifin - detiksport

Ketika David Beckham untuk pertamakalinya berlatih dengan pemain Real Madrid, pertanyaan pertama yang diajukan rekan barunya bukan bagaimana rasanya pindah ke Spanyol. Bukan pula akan tinggal didaerah mana di Madrid. Tentu juga bukan tentang istrinya, Victoria alias Posh Spice. Tetapi, "Bagaimana rasanya bermain dalam satu tim dengan Paul Scholes?"

Ya. Paul Scholes. Si pucat yang merupakan gelandang menyerang dari Manchester United. Walau penggemar sepakbola sering meremehkan pemain ini, tetapi dalam khazanah para jawara sepakbola di Eropa, namanya memang diunjung tinggi.

Bahkan sang maestro pemain tengah Eropa Zinedine Zidane menyebutnya sebagai pemain tengah terbaik untuk generasinya. Belum lama ini dalam sebuah wawancara ia mengaku menyesal tidak pernah berkesempatan bermain dengan Scholes. Maklum walau klub-klub besar Eropa tertarik, Paul Scholes tidak pernah ingin bermain untuk klub lain kecuali Manchester United.

Paul Scholes adalah salah satu anggota generasi emas Man United tahun 90-an bersama David Beckham, Ryan Giggs, Nicky Butt, dan Neville bersaudara. Tetapi dibandingkan kelima rekan angkatannya, profil Scholes seperti lepas dari radar.

Mungkin persoalannya adalah pribadi Scholes yang sangat pemalu dan secara sengaja menutup diri dari sorotan. Ia sangat jarang memberikan wawancara kepada wartawan, tidak pernah datang ke pesta-pesta selebriti, sangat pendiam bahkan dengan teman-teman akrabnya. Konon selama hampir dua puluh tahun bersepakbola ia baru empat kali memberi wawancara eksklusif.

Scholes bisa dikatakan satu dari sedikit pemain bola yang tidak pernah mengekpresikan diri kecuali di dalam lapangan. Setelah Eric Cantona mundur dialah denyut yang menjalin permainan lini pertahanan ke garis penyerangan Man United. Permainan satu-duanya diakui para pesepakbola sebagai yang terbaik di Eropa. Umpan-umpannya baik yang menelusur tanah maupun lambung sama akuratnya dan mematikan. Imajinasinya dalam memberi umpan tidak lumrah.

Yang luar biasa, menurut Ruud Gullit, adalah Scholes bisa melakukan semua itu dengan sangat sederhana. Sehingga yang ia lakukan seolah bukanlah sesuatu yang luar biasa. Itulah sebabnya, masih menurut Gullit, penonton melihatnya sebagai biasa-biasa saja, tetapi rekan maupun lawan sering terbengong-bengong.

Bukan sekadar menjalin serangan, ia sendiri seorang penyerang berbahaya baik dengan kaki maupun kepalanya. Ia mampu mencetak gol spektakuler dengan tendangan jarak jauhnya yang terkenal keras dan akurat. Tak heran kalau ia sudah mencetak 150 gol untuk Man United. Cukup bagus untuk seorang gelandang.

Menyebut sukses Man United usai Cantona, orang akan menyebut Beckham, Giggs, Keane, Cole, Yorke, Solksjaer dan nama-nama besar lainnya. Tetapi cabutlah Paul Scholes dari tim Man United itu maka semua pemain bintang itu akan mengatakan jangan. Itulah sebabnya semua pemain boleh silih berganti tetapi Paul Scholes tetap menjadi pantek Man United.

Namun seperti telah dikatakan, ia bisa tampil sangat hebat di lapangan tetapi begitu pertandingan usai dan wartawan berebut ingin mewancarainya, ia menghilang dari pencarian. Orang tidak pernah tahu apa yang dipikirkan maupun pandangan-pandangannya mengenai berbagai hal menyangkut sepakbola.

Misalnya orang sangat ingin tahu mengapa ia memutuskan untuk mundur dari tim nasional Inggris lima tahun lalu. Isu yang beredar ia tidak suka dengan gaya permainan yang ditampilkan Sven Goran Eriksson dan bosan dimainkan di posisi yang bukan menjadi posisi terbaiknya. Tetapi ia tak pernah mengatakan apapun sama sekali. Tidak menjelekkan, tidak mengritik, tidak mencela.

Steve Mclaren yang menggantikan Sven, membuang David Beckham tetapi dua kali membujuk Scholes untuk kembali ke tim nasional. Dua kali pula Scholes menolak dengan alasan ingin lebih meluangkan waktu untuk keluarga.

Bahkan diusianya yang ke-35, ketika kemampuannya sudah menurun terutama staminanya untuk menusuk ke kotak penalti, Fabio Capello membujuk untuk ikut ke Piala Dunia Afrika Selatan. Scholes menolak dengan alasan, salah satunya, tidak enak dengan pemain lain yang sudah berjuang untuk Inggris selama babak penyisihan.

Belum lama lalu ia mengaku menyesal tidak memenuhi panggilan itu. Itulah sebabnya kini terbetik berita Capello ingin memanggilnya untuk penyisihan Piala Eropa. Padahal pada saat bersamaan ia menutup pintu untuk pemain seangkatan Scholes dengan profil terbesar di Inggris, David Beckham dengan alasan sudah terlalu tua.

Sentimen Capello untuk pemain tua ini tidak luar biasa. Ambil misal pelatih jenial Arsenal Arsene Wenger. Belum lama ini ia masih mengatakan, kalau boleh memilih semua pemain Liga Primer yang ada, maka Scholes lah pemain pertama yang ada di susunan pemainnya. Carlo Ancelotti juga menyampaikan sentimen yang sama. Mungkin ini sudah agak usang karena dikatakan ketika ia masih memegang AC Milan.

Anak asuhnya saat itu akan bertemu dengan Man United di Piala Champions. Di hadapan wartawan ia mengatakan tidak satupun pemain Man United akan masuk ke 11 pemain utama Milan. Padahal disitu ada Ryan Giggs, Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney dan sejumlah nama lain. Tetapi Ancelotti kemudian terdiam sebentar lalu berkata, "Yahhhh… kecuali Paul Scholes".

Monday, August 23, 2010

Handwriting analysis personal test

You plan ahead, and are interested in beauty, design, outward appearance, and symmetry.
You are a shy, idealistic person who does not find it easy to have relationships, especially intimate ones.
You are diplomatic, objective, and live in the present.
You are not very reserved, impatient, self-confident and fond of action.
You are self-confident and like to bring attention to yourself.

let me translate them :

Anda merencanakan masa depan, dan tertarik pada kecantikan, desain, penampilan luar, dan simetri.
Anda orang yang pemalu, orang idealis yang tidak merasa mudah untuk memiliki hubungan, sulit memiliki hubungan terutama yang intim.
Anda diplomatik, objektif, dan hidup di masa sekarang.
Anda tidak terlalu pendiam, sabar, percaya diri dan suka beraksi.
Anda suka menarik perhatian orang lain terhadap diri anda sendiri.

Handwriting Analysis
What does your handwriting say about YOU?

Sunday, August 22, 2010

Ireland Bongkar Kebusukan Mancini

BIRMINGHAM, KOMPAS.com — Mantan gelandang Manchester City, Stephen Ireland, menuduh Roberto Mancini sebagai pelatih yang tak tahu caranya membangun hubungan personal dengan para pemainnya. Menurut Ireland, Mancini terlalu angkuh sebagai pelatih.

Ireland "dibuang" Mancini pada bursa transfer ini ke Aston Villa. Ia disertakan Mancini sebagai pemain tambahan dalam pembelian James Milner. Kini, pemain berusia 24 tahun itu sakit hati dan membongkar semua kebusukan mantan pelatihnya tersebut.

"Apakah aku bicara dengannya? Tidak sama sekali. Mancini tidak membangun hubungan dengan para pemainnya. Dia membawa Patrick Vieira musim lalu dan ketika aku berbicara tentang hubungannya dengan Mancini, Vieira mengatakan bahwa ia benar-benar tidak memiliki sedikit pun kedekatan dengannya. Padahal, mereka telah bekerja sama dalam waktu lama," kata Ireland.

"Aku pikir dirinya memang seperti itu. Dia membuat semua pemain tegang ketika di dekatnya. Terakhir kali aku memiliki hubungan dengan pelatih adalah Mark Hughes. Aku pikir loyalitas tidak ada di dalam Manchester City. Aku selalu merasa bahwa aku seperti pemain yang akan segera disingkirkan. Banyak pemain yang merasakan hal yang sama," lanjutnya.

Musim lalu, Mancini menuduh Ireland sebagai pemain yang tak beres. Menurut pelatih asal Italia itu, Ireland perlu mengubah cara berpikirnya di Eastlands. Ireland pun langsung berkomentar, "Itu tidak adil. Semua pemain tahu bahwa aku adalah orang pertama yang datang ke latihan dan orang terakhir yang meninggalkan lapangan. Aku orang yang paling bekerja keras. Ketika diadakan tes, aku selalu menjadi yang terbaik," pungkas pemain berdarah Irlandia tersebut. (SUN)